
Jepara, 13 April 2026 – Suasana khidmat dan penuh kebersamaan mewarnai kegiatan Wilujengan Nagari dan Doa Bersama Lintas Agama yang digelar pada Jumat (10/04/2026) pukul 19.30 hingga 23.00 WIB di Alun-Alun 1 Kabupaten Jepara. Kegiatan ini menjadi salah satu rangkaian peringatan Hari Jadi Jepara ke-477 Tahun 2026.
Hadir dalam kegiatan tersebut Bupati Jepara H. Witiarso Utomo, S.E., Wakil Bupati Jepara Muhammad Ibnu Hajar, S.M., Kajari Jepara Agung Bagus Kade Kusimantara, S.H., M.H., perwakilan Kapolres Jepara yang diwakili Waka Polres Kompol Edi Sutrisno, S.H., M.H., Sekda Jepara Ary Bachtiar, S.T., M.T., serta jajaran kepala OPD, Ketua FKUB Jepara KH. Hasim Sila, tamu undangan, dan masyarakat Kabupaten Jepara.
Kegiatan diawali dengan pembukaan, dilanjutkan prosesi Wilujengan Nagari melalui pembacaan mantra oleh Ki Hendro Kartiko. Rangkaian acara kemudian berlanjut dengan pergerakan Forkopimda menuju area Alun-Alun depan Patung Kapal, diikuti penutupan prosesi Wilujengan Nagari serta pertunjukan Tari Ula-ula dari Sanggar Tari Karimunjawa.
Dalam sambutannya, Bupati Jepara menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut sebagai bentuk ikhtiar batin memohon keselamatan, ketentraman, dan keberkahan bagi Kabupaten Jepara. Ia menegaskan bahwa Jepara tidak hanya dikenal melalui seni ukir dan kekuatan ekonominya, tetapi juga karena masyarakatnya yang guyub, tangguh, kreatif, dan religius.

Bupati juga mengapresiasi kehadiran seluruh elemen masyarakat yang turut serta dalam kegiatan tersebut, mulai dari pemerintah, tokoh agama, tokoh budaya, hingga masyarakat umum. Menurutnya, hal ini menunjukkan bahwa peringatan Hari Jadi Jepara merupakan milik bersama yang harus dijaga dan dimaknai secara kolektif.
Lebih lanjut, disampaikan bahwa pelestarian budaya harus berjalan beriringan dengan kemajuan zaman. Hal ini tercermin dari penggunaan busana tradisional, tata acara bernuansa budaya Jawa, serta penggunaan bahasa Jawa dalam kegiatan tersebut. Penampilan dalang cilik dengan lakon Banjaran Bima juga menjadi simbol regenerasi budaya yang patut diapresiasi.
Kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama lintas agama dan aliran kepercayaan yang dipimpin oleh Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Jepara. Momentum ini menjadi wujud nyata toleransi dan persatuan di tengah keberagaman masyarakat Jepara.
Selain itu, ditampilkan pagelaran wayang oleh tujuh dalang cilik usia 6 hingga 15 tahun dengan lakon Banjaran Bima di bawah bimbingan Yayasan Marga Langit. Kisah tersebut menggambarkan perjalanan hidup Bima sebagai ksatria yang menjunjung tinggi keberanian, kejujuran, dan nilai spiritual dalam mencari jati diri.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan sekapur sirih Wilujengan Nagari dan penutup acara. Seluruh kegiatan berlangsung dengan aman, tertib, dan kondusif.
Wilujengan Nagari dan Doa Bersama Lintas Agama ini menjadi bagian penting dalam rangkaian peringatan Hari Jadi Jepara, sebagai refleksi spiritual sekaligus penguatan nilai persatuan, budaya, dan religiusitas masyarakat Kabupaten Jepara.