
Jepara,26 Mei 2026 – Tradisi Sedekah Bumi dan Perang Obor Tahun 2026 kembali digelar dengan meriah di Desa Tegalsambi, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, pada Senin malam (25/5/2026). Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 19.00 WIB hingga 21.15 WIB tersebut berjalan aman, tertib, dan lancar serta mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat dan para tamu undangan.
Acara budaya tahunan yang menjadi ikon Desa Tegalsambi ini dihadiri oleh berbagai unsur pejabat daerah dan tokoh masyarakat, di antaranya Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, Bupati Jepara Witiarso Utomo beserta istri, Wakil Bupati Muhammad Ibnu Hajar beserta istri, Dandim 0719 Jepara Letkol Arm Ranna Hidfitriyadi, Kajari Jepara Agung Bagus Kade Kusimantara, perwakilan Kapolres Jepara, anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah, Sekda Jepara, pimpinan OPD, Forkopimcam Tahunan, para petinggi desa, tokoh masyarakat, serta tamu undangan lainnya.
Rangkaian kegiatan diawali dengan kirab pusaka dan ritual persiapan Perang Obor, dilanjutkan dengan pembukaan dan sambutan-sambutan. Petinggi Desa Tegalsambi H. Agus Santoso, S.E. dalam sambutannya menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh tamu undangan dan masyarakat yang hadir dalam tradisi tahunan tersebut.
Ia menjelaskan bahwa Perang Obor merupakan puncak rangkaian Sedekah Bumi Desa Tegalsambi yang sebelumnya telah diawali dengan berbagai kegiatan selama 35 hari, termasuk ziarah ke makam para leluhur desa. Menurutnya, tradisi ini tidak hanya menjadi ritual budaya, tetapi juga sarana edukasi bagi generasi muda agar menghormati leluhur dan memahami sejarah desa.
“Tradisi Perang Obor telah melahirkan berbagai inspirasi budaya seperti batik Perang Obor dan tari obor yang akan terus dikembangkan sebagai identitas budaya Desa Tegalsambi,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menegaskan pentingnya menjaga dan melestarikan tradisi warisan leluhur tersebut. Ia menyebut Perang Obor telah tercatat sebagai warisan budaya tak benda dan memiliki nilai filosofi yang mengajarkan penghormatan terhadap nasihat orang tua maupun guru.
Menurutnya, tradisi budaya seperti Perang Obor juga mampu memberikan dampak positif bagi sektor pariwisata dan pengembangan UMKM masyarakat setempat sehingga perlu terus dipromosikan hingga dikenal lebih luas, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Dalam kesempatan yang sama, Bupati Jepara Witiarso Utomo menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Desa Tegalsambi yang terus menjaga tradisi secara turun-temurun di tengah perkembangan zaman. Ia menilai Perang Obor menjadi bukti bahwa budaya lokal dapat menjadi kekuatan dalam mendukung pembangunan daerah, khususnya di bidang pariwisata, ekonomi kreatif, dan penguatan identitas budaya.
Bupati juga mengingatkan bahwa Perang Obor telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sejak tahun 2020. Oleh karena itu, seluruh masyarakat memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan mengenalkan tradisi tersebut kepada generasi muda.
Usai sambutan, acara dilanjutkan dengan penyulutan obor oleh Bupati Jepara sebagai tanda dimulainya tradisi Perang Obor. Sebanyak 40 peserta terlibat dalam atraksi budaya tersebut dengan menggunakan kurang lebih 400 obor. Prosesi berlangsung di perempatan dan sepanjang jalan raya Desa Tegalsambi dengan pengamanan dari aparat terkait.
Tradisi Perang Obor sendiri merupakan salah satu warisan budaya tak benda Kabupaten Jepara selain Jembul Tulakan dan Pesta Lomban. Kegiatan tahunan ini dipercaya sebagai simbol tolak bala sekaligus bentuk rasa syukur masyarakat atas hasil bumi dan keberkahan yang diterima.